Pemimpin Digerakkan oleh Values Leadership
Dunia pendidikan dewasa ini mengharapkan pendidik yang mampu membawa perubahan dari kondisi keterpurukan menuju arah yang lebih cerah. Kenyataan di lapangan tantangan kompetisi yang semakin ketat dan regulasi dunia pendidikan yang terus berubah-ubah pasca reformasi politik di tanah air menjadi tantangan serius para pendidik dewasa ini.
       Oleh karena itu, seorang pendidik dituntut mempunyai kompetensi dasar knowledge, skill,dan attitude yang memadai dalam bidang yang digeluti. Hanya dengan cara itu, para pendidik akan mampu  mendeteksi kekeliruan sosial, mengarahkan organisasi kepada kesuksesan, serta mampu memulihkan pada kondisi yang selaras dengan visi dan misi institusi pendidikan yang dipimpinnya.
Menurut Pengawas Yayasan Mardiwijana, Bandung – Satya Winaya Pastor A. Sudarno, OSC., modal dasar di atas, kemudian harus dipadukan dengan Values Leadership. Dalam hal ini seorang pendidik sebuah insitusi pendidikan juga harus secara utuh melengkapi diri dengan berbagai kompetensi untuk menggerakkan dan mengarahkan jalannya roda organisasi.
       “Seorang pendidik harus memiliki etos keguruan. Pasalnya pendidik yang mempunyai etos akan mendidik dengan suasana hati yang gembira dan bergairah. Disamping itu juga memiliki totalitas nilai luhur yang terpancar dari setiap kata-kata yang diucapkan. Dengan memiliki etos keguruan seorang pendidik tahu persis koridor, jalan, dan pegangan sehingga tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan yang tidak menentu,” tandas Penasehat Badan Musyawarah Perguruan Swasta Provinsi Jawa Barat tersebut.
Seseorang  yang mempunyai etos selalu mempunyai tekad dan kehendak yang kuat. Itu selalu memotivasi seorang pendidik dalam berinteraksi dengan orang lain dan utamanya ketika harus menyelesaikan pekerjaan tertentu. Oleh karena itu, paradigma pendidik yang mempunyai etos akan selalu bersentuhan dengan kesadaran, pengertian, keyakinan, kearifan, kewajiban, nilai-nilai, norma, tatasusila, serta tata-krama.
        Dia akan menghayati hidupnya sebagai rahmat   dan  senantiasa menjalankan profesinya dengan ikhlas, tulus, positif dan konstruktif, dan penuh syukur. Selain itu juga dituntut untuk bertindak secara benar dan penuh tanggung-jawab.  Pendidik yang demikian tidak alergi dengan kritik, jauh dari sikap cuek,  tidak mau kerja setengah hati, dan selalu menempatkan tanggung-jawab di atas segalanya.
Idealnya pendidik melihat posisi yang diembannya adalah wujud panggilan.  Panggilan sebagai wujud kewajiban luhur dan segala sesuatu yang dijalani bukan atas paksaan, tetapi atas kesadaran moral. Seorang pendidik yang telah menggapai proses ini maka arah dan tujuan hidupnya sudah jelas, visi dan misi tidak kabur.
Posisi pendidik dapat dijadikan sarana untuk aktualisasi diri. Seseorang yang berhasil mengaktualisasikan dirinya ada semacam keyakinan bahwa dalam hidup selalu ada peluang dan kesempatan untuk meraih sukses. Upaya meraih sukses tidak mungkin tanpa adanya perjuangan yang keras dan tantangan-tantangan pengganjal lainnya.
Mendidik juga dapat dijadikan perwujudan dari semboyan“ora et Labora” sehingga segala yang dilakukan seorang pendidik adalah bentuk dari ibadah untuk keagungan dan keluhuran Sang Pencipta. Seorang pendidik yang sampai pada kesadaran ini akan mempengaruhi ikatan batin pendidik dengan pekerjaan, motivasi dan perasaan, sikap dan disiplin, kuantitas dan kualitas, bahkan kepribadian seorang pendidik.
Ada pepatah yang mengatakan mendidik adalah sebuah seni. Efektifitas menjalankan peran sebagai pendidik   sangat tergantung dari kecerdasan dan kreativitasnya. Bahkan dalam kondisi tertentu seorang pendidik diposisikan sebagai sumber solusi terkait dengan citra diri dan penghargaan.
Tidak salah jika kemudian seorang pendidik dalam dirinya merasa bangga atas prestasi yang dibuatnya, bangga karena integritas pribadinya, bangga karena kesahajaannya, bangga karena kualitas yang dimiliki, dan bangga karena selalu konsisten untuk berdisiplin. Hal tersebut belum lengkap kalau tidak disertai dengan nilai-nilai pelayanan.
Mother Teresa, Nelson Mandela, Mahatma Gandhi, adalah sosok pemimpin karismatik, tetapi sekaligus sebagai pendidik bagi para pengikut setianya. Para guru dan kepala sekolah pada dasarnya adalah pelayan bagi rekan-rekan guru dan peserta didiknya.Oleh karena itu seorang guru dan kepala sekolah hanya dapat dikatakan sukses jika para peserta didiknya benar-benar merasa telah dicerdaskan, dibimbing, dimotivasi, dsb. Seorang kepala sekolah meski sudah disibukkan dengan urusan administrasi masih menyediakan waktu untuk proses perbaikan dan selalu terlibat total dalam peningkatan mutu sekolah.
       Kelahiran Marwita Magiswara tidak dapat dilepaskan dengan misi luhur yaitu untuk melahirkan para  guru dan kepala sekolah yang mampu menstransformasikan dirinya sebagai agen perubahan.  Adagium yang berlaku dalam konteks ini kepala sekolah sebagai pemimpin dan guru sebagai ujung tombak perubahan harus berani dan mampu memulai terjadinya perubahan menuju yang lebih baik.
Pelan tapi pasti tradisi lama yang melanggengkan status quo harus bergeser pada dinamika organisasi selaras dengan kebutuhan dan harapan peserta didik dan orang-tuanya. Bahkan tidak berlebihan dari institusi Marwita Magiswara yang kecil ini diharapkan menjadi miles stone bagi perbaikan mutu pendidikan dalam lingkup yang lebih luas.
Lebih jauh dari itu, Marwita Magiswara diharapkan dapat melahirkan para guru dan kepala sekolah yang mampu menstransformasi diri menjadi garam dan terang dunia. Menjadi garam berarti kehadirannya selalu memberikan rasa atau warna yang tidak tergantikan oleh siapapun. Sementara sebagai terang harus mampu memberikan inspirasi dan selalu membangkitkan optimisme,  bahwa banyak masalah di dalam dunia pendidikan tapi akan ada jalan keluarnya.
Marwita Magiswara yang berarti tempat hening digadang-gadang  dapat menjadi tempat pembelajaran guru dan kepala sekolah tanpa memandang kelompok, golongan, ras,  suku, keyakinan, dan agama  seperti yang terpateri dalam semboyan negara kita Bhineka Tunggal Ika dan Dasar Negara Pancasila.
“Pikiran bukanlah bejana yang harus diisi tapi pelita yang harus dinyalakan,” kata Plutarch. Marwita Magiswara mempunyai ketetapan hati untuk terus menyalakan semangat, meningkatkan kompetensi, dan kinerja para guru dan kepala sekolah agar semakin tumbuh dan berkembang dalam mengabdi di dunia pendidikan. Jop.

Copyright © Marwitamagiswara.org. All Rights Reserved